-->
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 April 2014

Posted by Unknown On 10:56:00 AM
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang berakal…” (QS. Yusuf ayat 111).
Sangat penting mempelajari sejarah dakwah Islam di Indonesia. Sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an ayat 111 bahwa mempelajari sejarah terdapat ibrah (pelajaran). Dengan memepelajari sejarah di masa lampau, kita dapat mengambil pelajaran untuk di masa yang akan datang dibuat perencanaan atau konsep yang lebih baik khususnya untuk dakwah di tanah air kita, Indonesia. Sesuai dengan hadist Rasulullah “Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok harus lebih baik dari hari ini “.
Bahasa merupakan nilai tertinggi dari suatu peradaban. Suatu bangsa dipengaruhi nilai tertentu jika bahasanya dipengaruhi oleh nilai tersebut. Bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab (bahasa Al-Qur’an) contohnya kata ibarat yang kata dasarnya dari ibrah ini yang bermakna pelajaran dan masih banyak lagi bahasa indonesia yang berasal dari bahasa Arab. Ini membuktikan bahwa budaya Indonesia sudahdipengaruhi oleh budaya islami.
Sejarah masuknya Islam di Indonesia melalui babak – babak yang penting:
1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).
Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.
Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan di agama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama, yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana “ Nahnu du’at qabla kulla syai“ artinya kami adalah dai sebelum profesi-profesi lainnya.
Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai.
Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.
2. Babak kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
  • a) Perdagangan
  • b) Pernikahan
  • c) Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
  • d) Seni dan budaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat jawa kkhususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
  • e) Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam.
3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.
Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.
Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
  • Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
  • Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.
4. Babak keempat, abad 20 masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.
Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.
Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.
Babak kelima, abad 20 & 21.
Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.

Selasa, 04 Februari 2014

Posted by Unknown On 12:12:00 AM

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.
Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah - terutama Belanda - menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.
Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.
Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).






Sejarah masuknya Islam di Indonesia melalui babak – babak yang penting:
1. Babak pertama, abad 7 masehi (abad 1 hijriah).
Pada abad 7 masehi, Islam sudah sampai ke Nusantara. Para Dai yang datang ke Indonesia berasal dari jazirah Arab yang sudah beradaptasi dengan bangsa India yakni bangsa Gujarat dan ada juga yang telah beradaptasi dengan bangsa Cina, dari berbagai arah yakni dari jalur sutera (jalur perdagangan) dakwah mulai merambah di pesisir-pesisir Nusantara.
Sejak awal Islam tidak pernah membeda-bedakan fungsi seseorang untuk berperan sebagai dai (juru dakwah). Kewajiban berdakwah dalam Islam bukan hanya kasta (golongan) tertentu saja tetapi bagi setiap masyarakat dalam Islam. Sedangkan di agama lain hanya golongan tertentu yang mempunyai otoritas menyebarkan agama, yaitu pendeta. Sesuai ungkapan Imam Syahid Hasan Al-Bana “ Nahnu du’at qabla kulla syai“ artinya kami adalah dai sebelum profesi-profesi lainnya.
Sampainya dakwah di Indonesia melalui para pelaut-pelaut atau pedagang-pedagang sambil membawa dagangannya juga membawa akhlak Islami sekaligus memperkenalkan nilai-nilai yang Islami. Masyarakat ketika berbenalan dengan Islam terbuka pikirannya, dimuliakan sebagai manusia dan ini yang membedakan masuknya agama lain sesudah maupun sebelum datangnya Islam. Sebagai contoh masuknya agama Kristen ke Indonesia ini berbarengan dengan Gold (emas atau kekayaan) dan glory (kejayaan atau kekuasaan) selain Gospel yang merupakan motif penyebaran agama berbarengan dengan penjajahan dan kekuasaan. Sedangkan Islam dengan cara yang damai.
Begitulah Islam pertama-tama disebarkan di Nusantara, dari komunitas-komunitas muslim yang berada di daerah-daerah pesisir berkembang menjadi kota-kota pelabuhan dan perdagangan dan terus berkembang sampai akhirnya menjadi kerajaan-kerajaan Islam dari mulai Aceh sampai Ternata dan Tidore yang merupakan pusat kerajaan Indonesia bagian Timur yang wilayahnya sampai ke Irian jaya.
2. Babak kedua, abad 13 masehi.
Di abad 13 Masehi berdirilah kerajaan-kerajaan Islam diberbagai penjuru di Nusantara. Yang merupakan moment kebangkitan kekuatan politik umat khususnya didaerah Jawa ketika kerajaan Majapahit berangsur-angsur turun kewibawaannya karena konflik internal. Hal ini dimanfaatkan oleh Sunan Kalijaga yang membina di wilayah tersebut bersama Raden Fatah yang merupaka keturunan raja-raja Majapahit untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa yaitu kerajaan Demak. Bersamaan dengan itu mulai bermunculan pula kerajaan-kerajaan Islam yang lainnya, walaupun masih bersifat lokal.
Pada abad 13 Masehi ada fenoma yang disebut dengan Wali Songo yaitu ulama-ulama yang menyebarkan dakwah di Indonesia. Wali Songo mengembangkan dakwah atau melakukan proses Islamisasinya melalui saluran-saluran:
• a) Perdagangan
• b) Pernikahan
• c) Pendidikan (pesantren)
Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang asli dari akar budaya indonesia, dan juga adopsi dan adaptasi hasanah kebudayaan pra Islam yang tidak keluar dari nilai-nilai Islam yang dapat dimanfaatkan dalam penyebaran Islam. Ini membuktikan Islam sangat menghargai budaya setempat selama tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
• d) Seni dan budaya
Saat itu media tontonan yang sangat terkenal pada masyarakat jawa kkhususnya yaitu wayang. Wali Songo menggunakan wayang sebagai media dakwah dengan sebelumnya mewarnai wayang tersebut dengan nilai-nilai Islam. Yang menjadi ciri pengaruh Islam dalam pewayangan diajarkannya egaliterialisme yaitu kesamaan derajat manusia di hadapan Allah dengan dimasukannya tokoh-tokoh punakawam seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
Para Wali juga menggubah lagu-lagu tradisional (daerah) dalam langgam Islami, ini berarti nasyid sudah ada di Indonesia ini sejak jaman para wali. Dalam upacara-upacara adat juga diberikan nilai-nilai Islam.
• e) Tasawwuf
Kenyatan sejarah bahwa ada tarikat-tarikat di Indonesia yang menjadi jaringan penyebaran agama Islam.
3. Babak ketiga, masa penjajahan Belanda.
Pada abad 17 masehi tepatnya tahun 1601 datanglah kerajaan Hindia Belanda kedaerah Nusantara yang awalnya hanya berdagang tetapi akhirnya menjajah. Belanda datang ke Indonesia dengan kamar dagangnya yakni VOC, semejak itu hampir seluruh wilayah nusantara dijajah oleh Hindia Belanda kecuali Aceh. Saat itu antar kerajaan-kerajaan Islam di nusantara belum sempat membentuk aliansi atau kerja sama. Hal ini yang menyebabkan proses penyebaran dakwah terpotong.
Dengan sumuliayatul (kesempurnaan) Islam yang tidak ada pemisahan antara aspek-aspek kehidupan tertentu dengan yang lainnya, ini telah diterapkan oleh para Ulama saat itu. Ketika penjajahan datang, mengubah pesantren-pesantren menjadi markas-markas perjuangan, santri-santri (peserta didik pesantren) menjadi jundullah (pasukan Allah) yang siap melawan penjajah sedangkan ulamanya menjadi panglima perangnya. Hampir seluruh wilayah di Indonesia yang melakukan perlawanan terhadap penjajah adalah kaum muslimin beserta ulamanya.
Potensi-potensi tumbuh dan berkembang di abad 13 menjadi kekuatan perlawanan terhadap penjajah. Ini dapat dibuktikan dengan adanya hikayat-hikayat pada masa kerajaan-kerajaan Islam yang syair-syairnya berisikan perjuangan. Ulama-ulama menggelorakan Jihad melawan kaum kafir yaitu penjajah Belanda. Belanda mengalami kewalahan yang akhirnya menggunakan strategi-strategi:
• Politik devide et impera, yang pada kenyataannya memecah-belah atau mengadu domba antara kekuatan Ulama dengan adat contohnya perang Padri di Sumatera Barat dan perang Diponegoro di Jawa.
• Mendatangkan Prof. Dr. Snouk Cristian Hourgonye alias Abdul Gafar seorang Guru Besar keIndonesiaan di Universitas Hindia Belanda juga seorang orientalis yang pernah mempelajari Islam di Mekkah, dia berpendapat agar pemerintahan Belanda membiarkan umat Islam hanya melakukan ibadah mahdhoh (khusus) dan dilarang berbicara atau sampai melakukan politik praktis. Gagasan tersebut dijalani oleh pemerintahan Belanda dan salah satunya adalah pembatasan terhadap kaum muslimin yang akan melakukan ibadah Haji karena pada saat itulah terjadi pematangan pejuangan terhadap penjajahan.
4. Babak keempat, abad 20 masehi
Awal abad 20 masehi, penjajah Belanda mulai melakukan politik etik atau politik balas budi yang sebenarnya adalah hanya membuat lapisan masyarakat yang dapat membantu mereka dalam pemerintahannya di Indonesia. Politik balas budi memberikan pendidikan dan pekerjaan kepada bangsa Indonesia khususnya umat Islam tetapi sebenarnya tujuannya untuk mensosialkan ilmu-ilmu barat yang jauh dari Al-Qur’an dan hadist dan akan dijadikannya boneka-boneka penjajah. Selain itu juga mempersiapkan untuk lapisan birokrasi yang tidak mungkin pegang oleh lagi oleh orang-orang Belanda. Yang mendapat pendidikanpun tidak seluruh masyarakat melainkan hanya golongan Priyayi (bangsawan), karena itu yang pemimpin-¬pemimpin pergerakan adalah berasalkan dari golongan bangsawan.
Strategi perlawanan terhadap penjajah pada masa ini lebih kepada bersifat organisasi formal daripada dengan senjata. Berdirilah organisasi Serikat Islam merupakan organisasi pergerakan nasional yang pertama di Indonesia pada tahun 1905 yang mempunyai anggota dari kaum rakyat jelata sampai priyayi dan meliputi wilayah yang luas. Tahun 1908 berdirilah Budi Utomo yang bersifat masih bersifat kedaerahan yaitu Jawa, karena itu Serikat Islam dapat disebut organisasi pergerakan Nasional pertama daripada Budi Utomo.
Tokoh Serikat Islam yang terkenal yaitu HOS Tjokroaminoto yang memimpin organisasi tersebut pada usia 25 tahun, seorang kaum priyayi yang karena memegang teguh Islam maka diusir sehingga hanya menjadi rakyat biasa. Ia bekerja sebagai buruh pabrik gula. Ia adalah seorang inspirator utama bagi pergerakan Nasional di Indonesia. Serikat Islam di bawah pimpinannya menjadi suatu kekuatan yang diperhitungkan Belanda. Tokoh-tokoh Serikat Islam lainnya ialah H. Agus Salim dan Abdul Muis, yang membina para pemuda yang tergabung dalam Young Islamitend Bound yang bersifat nasional, yang berkembang sampai pada sumpah pemuda tahun 1928.
Dakwah Islam di Indonesia terus berkembang dalam institusi-institusi seperti lahirnya Nadhatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, dan lain-lain. Lembaga-lembaga ke-Islaman tersebut tergabung dalam MIAI (Majelis Islam ‘Ala Indonesia) yang kemudian berubah namanya menjadi MASYUMI (Majelis Syura Muslimin Indonesia) yang anggotanya adalah para pimpinan institusi-institusi ke-Islaman tersebut.
Di masa pendudukan Jepang, dilakukan strategi untuk memecah-belah kesatuan kekuatan umat oleh pemerintahan Jepang dengan membentuk kementrian Sumubu (Departemen Agama). Jepang meneruskan strategi yang dilakukan Belanda terhadap umat Islam. Ada seorang Jepang yang faham dengan Islam yaitu Kolonel Huri, ia memotong koordinasi ulama-ulama di pusat dengan di daerah, sehingga ulama-ulama di desa yang kurang informasi dan akibatnya membuat umat dapat terbodohi.
Pemerintahan pendudukan Jepang memberikan fasilitas untuk kemerdekaan Indonesia dengan membentuk BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan dilanjuti dengan PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) dan lebih mengerucut lagi menjadi Panitia Sembilan, Panitia ini yang merumuskan Piagam Jakarta tanggal 22 Juni 1945. Piagram Jakarta merupakan konsensus tertinggi untuk menggambarkan adanya keragaman Bangsa Indonesia yang mencari suatu rumusan untuk hidup bersama. Tetapi ada kalimat yang kontroversi dalam piagam ini yaitu penghapusan “7 kata “ lengkapnya kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluk-pemeluknya yang terletak pada alinea keempat setelah kalimat Negara berdasarkan kepada Ketuhan Yang Maha Esa.
Babak kelima, abad 20 & 21.
Pada babak ini proses dakwah (Islamisasi) di Indonesia mempunyai ciri terjadinya globalisasi informasi dengan pengaruh-pengaruh gerakan Islam internasional secara efektif yang akan membangun kekuatan Islam lebih utuh yang meliputi segala dimensinya. Sebenarnya kalau saja Indonesia tidak terjajah maka proses Islamisasi di Indonesia akan berlangsung dengan damai karena bersifat kultural dan membangun kekuatan secara struktural. Hal ini karena awalnya masuknya Islam yang secara manusiawi, dapat membangun martabat masyarakat yang sebagian besar kaum sudra (kelompok struktur masyarakat terendah pada masa kerajaan) dan membangun ekonomi masyarakat. Sejarah membuktikan bahwa kota-kota pelabuhan (pusat perdagangan) yang merupakan kota-kota yang perekonomiannya berkembang baik adalah kota-kota muslim. Dengan kata lain Islam di Indonesia bila tidak terjadi penjajahan akan merupakan wilayah Islam yang terbesar dan terkuat. Walaupun demikian Allah mentakdirkan di Indonesia merupakan jumlah peduduk muslim terbesar di dunia, tetapi masih menjadi tanda tanya besar apakah kualitasnya sebanding dengan kuantitasnya.

Minggu, 12 Januari 2014

Posted by Unknown On 4:29:00 PM


SEJARAH BERDIRINYA PONPES AN-NAWAWI PURWOREJO


Pondok Pesantren An – Nawawi Berjan
, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang Kabupaten Purtworejo didirikan pada tahun 1870 M oleh Al Marhum Al Maghfurlah KH. Zarkasyi dengan nama “Mafatihul 'Ulum“. KH. Zarkasyi adalah putra dari Ky.Asnawi dan dilahirkan di desa Tempel Tanggul, Sidomulyo Purworejo. Beliau memperoleh pendidikan agama sejak kecil dari orang tuanya, dan setelah menginjak dewasa beliau meneruskan belajar di pesantren Bangil Jawa Timur.
Setelah beberapa tahun belajar di pesantren Bangil kemudian KH. Zarkasyi melanjutkan pendidikannya dengan pergi ke Makkah untuk berguru kepada KH. Abdul Karim Banten Jawa Barat (Beliau adalah paman Syaikh Nawawi Banten), ilmu yang diperoleh adalah Ilmu Thoriqoh yang dikenal dengan Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Sepulang dari Makkah KH. Zarkasyi kemudian berguru kepada K. Sholeh di Darat Semarang untuk memperdalam ilmu bidang Syari’at. Di samping menjadi guru dari KH. Zarkasyi, K. Sholeh Darat adalah juga teman belajar Thoriqoh ketika masih di Makkah.
Setelah bertahun – tahun memperdalam ilmu di berbagai pondok pesantren, kemudian beliau bermukim di Desa Dunglo, Baledono, Purworejo. Kemudian oleh Syaikh Sholeh Darat dianjurkan untuk mendirikan masjid di Dukuh Berjan dengan membekali dua buah batu bata merah. Dan mulai saat itulah berdiri sebuah masjid yang lambat laun berkembang menjadi sebuah pondok pesantren sampai saat ini.
Kemudian pada sekitar tahun 1960, Kepala Pondok waktu itu (Bp. Najmuddin) bermusyawarah dengan para pengurus tentang nama pondok yang lafalnya terdiri dari lafal jama' semua. Maka mereka mengambill keputusan merubah nama Pondok Pesantren menjadi "Maftahul Ulum" atas persetujuan pengasuh (KH. Nawawi).
Pada tahun 1965, sewaktu kepemimpinan dilanjutkan oleh KH. Nawawi, bin KH. Shiddieq bin KH. Zarkasyi, nama pondok pesantren diganti dengan nama “ Roudlotut Thullab “ yang berarti Taman Pelajar atau Taman Siswa, dan kemudian pada tanggal 7 Januari 1996, bertepatan dengan tanggal 16 Sya’ban 1416 H, kembali diganti menjadi “ An – Nawawi “ seperti yang kita kenal sekarang ini.

Nama terakhir ini dipilih, karena 2 ( dua ) alasan pokok, yaitu :
Pertama, dalam rangka tafaulan ( mengharap barokah ) kepada muasis atau pengasuh ke – tiga pondok pesantren, Al Marhum Al Maghfurlah KH. Nawawi bin Shiddieq.
Kedua, Sebagai tonggak sejarah bahwa pada masa KH. Nawawi inilah, sistem atau metode pengajaran dikenalkan kepada sistem madrasi atau dalam dunia pendidikan modern dikenal dengan istilah klasikal.

Selain itu, pada tahun 1981, dirintis pula pendirian Pondok Pesantren putri Al Fathimiyyah (sekarang, Pondok Pesantren Putri An – Nawawi). Dengan kata lain, selama memimpin pondok pesantren, KH. Nawawi telah berhasil merumuskan dasar pengembangan (master plan) Pondok Pesantren An – Nawawi.
Dalam sejarah kepemimpinannya, Pondok Pesantren ini sejak awal berdirinya sampai sekarang telah mengalami 4 (empat) kali estafet kepemimpinan.

a. Periode I ( 1870 – 1917 M )
Periode pertama kepemimpinan pondok pesantren dipegang langsung oleh pendirinya, yaitu Al Marhum Al Maghfurlah KH. Zarkasyi. Pada masa ini, sebagaimana layaknya sebuah pondok pesantren, diawali dengan dibangunnya sebuah surau sederhana terbuat dari bambu. Santri yang mengaji pun masih terbatas dari lingkungan sekitar. Karena itu, Sistem pendidikan yang diterapkan masih berkisar pada pokok – pokok dasar ‘Ubudiyyah ( peribadatan ) dan berbagai pengetahuan praktis lainnya, yang diantaranya bersumber pada kitab Majmu’ Lathoifut Thoharoh, karya gurunya sendiri, Syech Sholeh Darat.
b. Periode II ( 1917 – 1948 M )
Setelah KH. Zarkasyi wafat, maka kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan oleh putranya yang bernama KH. Shiddieq. Sejalan dengan kedudukan beliau yang bukan hanya sebagai pengasuh pondok pesantren, akan tetapi juga dikenal sebagai Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah Wa Naqsyabandiyyah, maka keberadaan pondok pesantren (Waktu itu masih Miftahul Huda) lambat laun mulai berkembang dan juga semakin banyak pula santri yang datang dari luar daerah untuk berguru kepada beliau KH. Shiddieq.

c. Periode III ( 1948 – 1982 M )
Pada kepemimpinan periode ketiga pondok pesantren dipimpim oleh salah seorang putra KH. Shiddieq, yang bernama KH. Nawawi.
Semenjak kecil, KH. Nawawi hidup dan dibesarkan dalam lingkungan pondok pesantren. Beberapa pondok pesantren tempat beliau berguru antara lain :
1. Pondok Pesantren Termas Kediri,
2. Pondok Pesantren Lirboyo Kediri,
3. Pondok Pesantren Darus Salam Watucongol Magelang,
4. Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta,dan
5. Pondok Pesantren lain di Jawa.
Disamping meneruskan pondok pesantren yang diwariskan ayahandanya, semasa hidupnya KH. Nawawi juga tidak pernah absen dalam kancah perjuangan bangsa, baik sebelum maupun setelah diproklamirkannya kemerdekaan. Sebelum kemerdekaan beliau dikenal sebagai komandan Laskar Hizbullah Purworejo, dan setelah kemerdekaan beliau dikenal aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Organisasi tersebut antara lain :
1. Sebagai Ketua Tanfidziyah NU Cabang Purworejo
2. Sebagai Ketua MUI Kabupaten Purworejo
3. Sebagai Pengurus Pusat Thoriqoh Qodiriyyah / Naqsyabandiyyah
Selama kurang lebih 33 tahun memimpin pondok pesantren, KH. Nawawi berhasil menetapkan dasar–dasar pengembangan pondok pesantren, yaitu :
a. Diadakannya perubahan nama pondok pesantren dari “ Miftahul Huda “ menjadi “ Roudlotut Thullab “ pada tahun 1965.
b. Dibukanya Pondok Pesantren Putri Al Fatimiyyah (Sekarang Pondok Pesantren Putri An – Nawawi )
c. Dimulainya pengajaran dengan menggunakan sistem madrasi atau klasikal
d. Dibukanya lembaga pendidikan formal, yaitu : Pendidikan Guru Agama (PGA), dan saat ini telah berubah menjadi SLTP Islam Berjan.

d. Periode IV ( 1982 – sekarang )
Tahap demi tahap perkembangan dan kemajuan yang dicapai oleh Pondok Pesantren semakin nampak, dan selama ini pergantian estafet kepemimpinan tidak mengalami hambatan. Maka sejak sepeninggal beliau KH. Nawawi pada tahun 1981, estafet kepemimpinan pondok pesantren dilanjutkan oleh salah satu putranya yang bernama KH. Achmad Chalwani.
Sebagaimana ayahandanya, sebelum melanjutkan estafet kepemimpinan, beliau juga dibesarkan dan dididik dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren lainnya, disamping itu juga mendapatkan bekal pendidikan formal.
Pondok pesantren – pondok pesantren tersebut antara lain :
1. Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak Yogyakarta.
2. Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Lirboyo Kediri, dan
3. Pondok Pesantren – Pondok Pesantren lainnya.
Dalam periode inilah perkembangan pondok pesantren an-Nawawi berkembang pesat dan kemasyhurannya semakin terkenal dimana-mana, hal ini terbukti dengan semakin banyaknya santri yang datang untuk mondok yang berasal dari berbagai daerah, baik dari dalam pulau jawa maupun luar pulau jawa dan bahkan ada yang datang dari luar negri, seperti malaysia.
Sebagai pemegang pimpinan tinggi di Pondok Pesantren, KH. Achmad Chalwani menyadari betul bahwa tujuan besar, luhur dan mulia yang dirintis oleh para pendahulunya, adalah merupakan amanat yang wajib dibina dan dikembangkan, serta diupayakan peningkatan selaras dengan perkembangan zaman dengan tidak meninggalkan ciri khas pesantren salafiyahnya. Hal ini dimaksud agar keberadaan pondok pesantren dan peranannya di masa kini dan yang akan datang akan mampu berbuat lebih banyak serta dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi peningkatan martabat hidup masyarakat disekitarnya.
Disamping itu pengiriman da’I diberbagai daerah minus, berbagai majlis ta’lim dan selapanan senantiasa terus dilaksanakan dan dikembangkan.
Peristiwa penting yang terjadi pada periode ini adalah dirubahnya nama Pondok Pesantren “ Roudlotut Thullab “ menjadi Pondok Pesantren “An – Nawawi” pada tanggal 6 januari 1996 M, yang bertepatan dengan tanggal 16 Sya’ban 1416 H. Dalam rangka memperkuat dasar – dasar pengembangan yang telah dirumuskan pendahulunya, KH. Achmad Chalwani memisahkan program pengembangan dalam beberapa bidang sebagai berikut :

1) Bidang Organisasi dan Managemen
Organisasi dan managemen pengelolaan adalah faktor yang amat menentukan bagi perkembangan dan masa depan pondok pesantren secara umum. Karena itu, maka pada periode keempat ini telah dirintis beberapa langkah yang mengarah kepada terlaksananya tertib organisasi dan managemen modern. Beberapa kemajuan bidang ini, antara lain :
a. Pondok Pesantren mendirikan yayasan yang telah disahkan Akta Pendiriannya dan diberi nama “ Yayasan Pengembangan Pondok Pesantren Roudlotut Thullab Berjan “ yang disingkat dengan nama YASPENDO, yakni sebuah yayasan yang membawahi seluruh unit pendidikan formal maupun perekonomian yang diselenggarakan.
b. Melalui Surat Keputusan Ketua Yayasan No. 031/SK.YASPENDO/XII/1995, tanggal 31 Desember 1995 M. / 9 Sya’ban 1416 H., ditetapkan untuk mempergunakan nama An – Nawawi dalam setiap produk lembaga yang bernaung di bawah yayasan. Keputusan ini berlaku efektif sejak tanggal 7 Januari 1996 M. / 17 Sya’ban 1416 H, dan peresmiannya ditandai dengan pembukaan selubung papan nama pondok pesantren putra oleh Bupati KDH Tk II Purworejo, Drs. Goernito.
c. Dirumuskannya sistem keuangan tunggal ( Mono Cash ), khusus bagi unit – unit pendidikan. Sementara untuk koperasi, mengingat keterkaitannya dengan dunia usaha pada umumnya, maka diberikan wewenang penuh mengelola keuangan sendiri, tetapi wajib memberikan laporan perkembangan perbulan.

2) Bidang Pendidikan
Pelaksanaan program pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren An – Nawawi, secara umum dapat dibedakan menjadi 2 ( dua ) bidang, yang meliputi :
a) Pendidikan Madrasah ( Diniyyah )
Pendidikan Madrasah ( Diniyyah ) dibuka sejak tahun pelajaran 1962, dan mendapatkan piagam madrasah dari Departemen Agama RI, nomor : Wk./5.e/909/Pgm/MD/1987, tertanggal 03 september 1987, yang ditanda tangani oleh Bapak A. Sunaryo,SH. Adapun madrasah yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren An-Nawawi adalah sebagai berikut :
1. Madrasah Diniyyah Ulya Banin / Banat An – Nawawi,
2. Madrasah Diniyyah Wustha Banin / Banat An – Nawawi
3. Madrasah Diniyyah Awaliyyah Banin / Banat An – Nawawi

b) Pendidikan Formal ( Umum )
Pendidikan Formal yang telah diselenggarakan, yaitu :
1. Madrasah Tsanawiyyah ( MTs ) An – Nawai 01 Berjan, dibuka sejak tahun pelajaran 1995 / 1996
2. Madrasah Tsanawiyyah ( MTs ) An – Nawawi 02 Salaman di Purwosari Salaman Magelang, dibuka sejak tahun pelajaran 2000 / 2001.
3. Madrsah Aliyyah An-Nawawi Berjan, dibuka sejak tahun pelajaran 2000/2001, Program Madrasah Aliyyah Keagamaan (MAK), dan Program Madrasah Aliyyah Umum (MAU)
4. Sekolah Tinggi Agama Islam An-Nawawi (STAIAN) Berjan, dibuka sejak tahun pelajaran 2001/2002, Fak. Syari’ah, Prodi : Muamalah (Ekonomi Islam) dan Ahwalus Sykhsyiyah (Hukum Perdata Islam).

3) Bidang Perekonomian
Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, menyadari bahwa kemandirian dalam bidang perekonomian akan menduduki peran strategis dalam setiap aktifitas maupun keputusan yang ditetapkan. Dalam kaitan itu, maka dikembangkanlah pola hidup ber-koperasi dikalangan santri. Kebijakan ini secara bertahap diharapkan akan menjadi Badan Usaha Milik Pesantren (BUMP), yang diharapkan akan mampu menopang kebutuhan operasional pondok pesantren.
Koperasi pondok pesantren (kopontren) An-Nawawi Berjan didirikan pada tanggal 23 mei 1995 dan saat ini mengelola unit-unit usaha, yaitu :
1. Unit Waserda
2. Unit Wartel
3. Unit BMT
4. Unit Cuci Mobil dan Tambal Ban (dalam penyelesaian)

4) Bidang Sarana dan Prasarana
1. Dua unit asrama putri, masing-masing 2 (dua) lantai.
2. Satu unit asrama putra, 3 (tiga) lantai
3. Dua unit gedung pendidikan, masing-masing 2 (dua) lantai, satu masih dalam tahap penyelesaian
4. Satu unit gedung penginapan/peristirahatan tamu
5. Satu unit gedung koperasi, 2 (dua) lantai
6. Satu unit gedung thoriqoh, 2 (dua) lantai
7. Membeli 4 (empat) bidang tanah seluas + 11.500 M2, yang diperuntukkan bagi pembangunan program jangka panjang.

Di tengah kesibukannya mendidik dan membimbing para santrinya, KH. Achmad Chalwani masih menyempatkan diri untuk terjun langsung dalam kegiatan dakwah dimasyarakat. Kegiatan aktif dimasyarakat yang telah aktif berjalan, antar lain :
a) Khataman Khuwajikan dan Tawajjuhan, diadakan setiap hari selasa pagi
b) Khataman khuwajikan, diadakan setiap hari jum’at
c) Pengajian rutin sewelasan, diadakan setiap tanggal sebelas bulan Qomariyyah
d) Pengajian rutin selapanan ahad wage, diadakan setiap hari ahad wage
Keempat kegiatan ini dilaksanakan di Komplek Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan
e) Pengajian rutin selapanan Senin Pon, diadakan setiap 36 hari sekali pada hari Senin Pon, secara bergilir di Wilayah Kabupaten Purworejo
f) Pengajian rutin selapanan Sabtu Pon, diadakan setiap 36 hari sekali pada hari Sabtu Pon, secara bergilir di Wilayah Kabupaten Kebumen
g) Pengajian rutin selapan Kamis Legi, diadakan setiap 36 hari sekali pada hari Kamis Pon, di Masjid Kauman Salaman Magelang.
h) Kegiatan rutin ziarah Makam Auliya' / 'Ulama dan Pejuang secara rutin tiap tahun.
i) Pengiriman juru dakwah ke daerah-daerah minus, termasuk pengiriman da'i Romadlon ke Kabupaten Gunungkidul.
Selain itu, beliau juga di kenal aktif dalam beberapa organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, antar lain :
a) Sebagai Rois Syuriyyah Pengurus Cabang Nahdlotul Ulama Kabupaten Purworejo
b) Sebagai Rois Syuriyah Idaroh Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdliyyah Kabupaten Purworejo
c) Sebagai anggota Idaroh Wustho Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdliyyah Propinsi Jawa Tengah
d) Sebagai anggota Idaroh Aliyyah Jam’iyyah Ahlit Thoriqoh Al Mu’tabaroh An-Nahdliyyah
e) Sebagai anggota Pengurus Pusat Thoriqoh Qodiriyyah / Naqsyabandiyyah

PEMBELAJARAN PONPES AN-NAWAWI

Pondok Pesantren An-Nawawi didirikan dengan maksud dan tujuan sebagai berikut :
a) Menanamkan dan meningkatkan ruhul islam dalam perikehidupan perseorangan/individu maupun kelompok masyarakat berdasarkan keikhlasan dalam mengamalkan syari’at islam.
b) Menyebarkan misi islam melalui dakwah yang bertanggung jawab terhadap masyarakat luas.
c) Mendidik dan membina santri untuk menjadi manusia yang bertaqwa, berkepribadian tangguh, berwawasan dan trampil, sehingga mampu menjalankan tugas dan kewajibannya dalam beragama, berbangsa dan bernegara
d) Mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pembekalan ilmu agama dan ilmu pengetahuan secara utuh dan terpadu sehingga memungkinkan pola hidup santri yang religius dan ilmiah.
C. PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN

a. Struktur Organisasi
Dalam upaya untuk meningkat aktifitas pondok pesantren, maka pada saat kepemimpinan pondok pesantren dipegang oleh KH. Achmad Chalwani, disusun suatu organisasi yang lebih efektif dari sebelumnya. Organisasi yang dibentuk adalah :
1. Organisasi Otonom
Yaitu Organisasi yang bertugas mengatur kebijakan sentral pondok pesantren. Organisasi ini terdiri dari : Kepala, Sekretaris, Logistik dan Bagian Pendidikan dan Pengajaran.
2. Organisasi Eksekutif
Yaitu Organisasi yang bertugas mengatur kehidupan pondok pesantren dalam praktek kesehariannya. Organisasi ini meliputi : Kepala Bagian Keamanan dan Ketertiban, Kepala Bagian Sosial Kemasyarakatan, Kepala Bagian Penerangan, Kepala Bagian Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan.

b. Keadaan Guru/Ustadz dan Santri
1) Keadaan Guru/Ustadz
Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan diasuh oleh KH. Achmad Chalwani. Selain terjun langsung dalam membimbing dan mendidik santrinya, KH. Achmad Chalwani juga memberikan kepercayaan kepada beberapa orang ustadz untuk membantunya. Para ustadz ini bertanggung jawab penuh terhadap jalannya program pendidikan dan pengajaran di pondok pesantren.
Selain itu mereka juga di bantu ustadz pembantu atau sering disebut dengan “Badal”. Ustdz pembantu ini hanya mengajar sewaktu-waktu, misalnya apabila ada ustadz yang berhalangan, maka ustadz pembantu inilah yang bertugas menggantikannya. Ustadz pokok dan badal adalah para santri senior yang telah menyelesaikan pendidikan madrasah dan dipandang cukup memiliki kemampuan untuk menyampaikan materi pelajaran. Sistem pengangkatan guru atau ustadz yang demikian, dimaksudkan untuk menghindari kekosongan pelajaran dan sekaligus sebagai ajang pengkaderan dan juga sebagai wahana latihan sebelum mereka terjun di masyarakat nantinya

2) Keadaan Santri
Saat ini santri Pondok Pesantren Putra An-Nawawi Berjan Purworejo sejumlah + 1.000 orang, terdiri dua maca santri, yaitu :
1. Santri Mukim yaitu murid-murid yang berasal dari daerah jauh dan menetap didalam pondok pesantren.
2. Santri Kalong yaitu murid-murid yang berasal dari desa-desa sekitar pesantren dan tidak menetap di pondok pesantren, namun jumlahnya sangat sedikit

c. Aktifitas Santri
Aktifitas yang dimaksud disini adalah seluruh rangkaianj kegiatan yang dilakukan oleh para santri dalam rangka meningkatkan pengetahuan, baik keguatan itu berupa pengajuan-pengajian, kursus-kursus, sekolah dan lain sebagainya. Aktifitas santri ini terbagi menjadi 2 (dua) macam :
1) Aktifitas di dalam Pondok Pesantren
Adalah segala aktifitas yang berada di dalam pondok pesantren. Aktifitas ini secara garis besar terbagi menjadi 3 (tiga), yaitu :
a. Pendidikan Madrasah
Pendidikan madrasah atau yang dalam pendidikan umum dikenal dengan kokurikuler, diselenggarakan setelah Jama’ah Sholat ‘Isya/jam 20.00 WIB sampai dengan jam 22.30 WIB
b. Pendidikan Luar Madrasah
1. Pengajian Ba’da Shubuh
2. Pengajian Ba’da Dhuhur
3. Pengajian setelah selesai madrasah atau jam 22.30 s/d 24.00 WIB
4. Pengajian Kamar setiap ba’da Maghrib
5. Musyawaroh / Diskusi kelas setiap ba’da Ashar, membahas secara bersama-sama materi pelajaran yang telah diajarkan.
6. Pengajian Sistem Sorogan (Less Person), untuk memberi kesempatan pada santri dalam menambah materi pelajaran yang diinginkan.
7. Pengajian Bandongan, yaitu pengajian luar madrasah dengan system kelompok / kolektif dan wajib diikuti oleh semua santri sesuai dengan kelas dan tingkatannya.
8. Pengajian khusus bagi santri yang tidak mengikuti pendidikan umum, setiap pagi hari.

c. Pendidikan Ekstrakurikuler
a) Pendidikan Ketrampilan
1. Organisasi dan Ketrampilan (Leadership)
2. Perkoperasian
3. Perikanan/perikanan
4. Pertanian dan Agrobisnis
5. Jurnalistik
6. Komputer
7. Kursus bahasa inggris dan lain sebagainya.

b) Pendidikan Olahraga
1) Sepak Bola 4) Tenis Meja
2) Bola Volly 5) Sepak Takraw
3) Bulu Tangkis

c) Pendidikan Kesenian
1) Al Barzanji 2) Qiroat (seni baca al-Qur’an)
3) Khitobah/Pidato 4) Khoth/Kaligrafi
5) Hadrah

2) Aktifitas di Luar Pondok Pesantren
Aktifitas ini tidak hanya terbatas pada kegiatan keagamaan saja, akan tetapi para santri juga ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat, seperti : kerja bakti, bakti sosial, khitanan massal dan lain sebagainya. Melalui aktifitas ini diharapkan akan terjalin hubungan yang harmonis antara pondok pesantren dengan masyarakat disekitarnya.

Selain itu, dalam rangka mempererat hubungan kedua pihak, para santri juga mengikuti berbagai bentuk perlombaan olahraga yang diselenggarakan oleh desa. Dari kenyataan tersebut, nampak benar kemanfaatan yang dirasakan kedua belah pihak, pihak masyarakat secara langsung mendapat sentuhan nilai-nilai islam yang diemban oleh pondok pesantren, pihak pondok pesantren mendapat tempat tersendiri dimata masyarakat. Selain itu para santri dapat mengkaji lebih dalam dari nilai-nilai yang didapat langsung dari pergaulannya dengan masyarakat sebagai bekal ketika kembali ke kampung halamannya.

D. SEJARAH MADRASAH
Sejak berdiri sampai periode ini, pengajian di pondok masih memakai system bandongan. Kemudian pada tahun 1962 Bp. Ky. Khozin, atas persetujuan pengasuh membuka system pengajian madrasah meniru metode pondok lirboyo sekaligus beliau sebagai kepala madrasah.
Adapun kelasnya terdiri dari beberapa tingkatan, yaitu :
1. Madrasah I’dadiyyah atau Sekolah persiapan (SP), 1 tahun.
2. Madrasah Tsanawiyyah (MTs), 3 tahun, disebut kelas I, 2 dan 3.
3. Madrasah Aliyah (MA), 3 tahun, disebut kelas 4, 5 dan 6
Masing-masing tingkatan dipimpin oleh kepala tingkatan
Kemudian pada tahun … sekolah persiapan (SP) berubah nama menjadi "Madrasah Ibtida'iyyah (MI)" dengan jenjang 3 tahun. Kemudian pada tahun … Madrasah Ibtida'iyyah dipersingkat jenjangnya menjadi hanya 1 tahun.
Sejak saat itu dikenal istilah madrasah tingkat ibtida'iyyah madrasah tingkat tsanawiyyah, dan madrasah tingkat aliyah. Dan kepalanya pun disebut kepala tingkat MI, kepala tingkat MTs dan kepala tingkat MA.
Kemudian pada tahun 2005 nama madrasah mengalami perubahan yaitu:
1. Madrasah Ibtida'iyyah menjadi Madrasah Diniyyah Awwaliyah
2. Madrasah Tsanawiyyah menjadi Madrasah Diniyyah Wustha
3. Madrasah Aliyah menjadi Madrasah Diniyyah Ulya
Sejak saat itu istilah tingkatan ditiadakan. Maka istilah kepala pun juga berubah menjadi hanya kepala MDA kepala MDW dan kepala MDU
Adapun kitab yang digunakan pada masing-masing fan adalah sebagai berikut :
• Sekolah Persiapan (SP)
No Fan Nama Kitab

1 Al Qur'an Juz ‘Amma
2 Tajwid Syifa’ul Janan
3 Tauhid ‘Aqidatul ‘Awam
4 Fiqh Durusul Fiqhiyyah
5 Akhlaq Syi’ir Alala
6 Khoth / Imla' Qolamul Ustadz
7 Bhs. Arab Syi’ir Ro’sun Sirah
Jumlah JPL / Minggu

• Madrasah Tsanawiyyah (MTs)
Kls No Fan Nama Kitab

I 1 Al Qur'an Juz ‘Amma
2 Tajwid Tuhfatul Athfal
3 Tauhid Durusul ‘Aqoiddid Diniyyah
4 Hadits Arba’in Nawawi
5 Fiqh Al Ghoyah Wat Taqrib
6 Nahwu Nahwu Wadlih
7 Shorof Al Amtsilatut Tashrifiyyah I
8 Akhlaq Al Akhlaq lil Banin
9 Khoth / Imla' Qolamul Ustadz
10 Tarikh Khulashoh Nurul Yaqin I
Jumlah JPL / Minggu
II 1 Tajwid Fatchul Mannan
2 Hadits ‘Umdatul Ahkam
3 Tauhid Khomsatu Mutun
4 Fiqh Fatchul Qorib I
5 Akhlaq Washoya
6 Nahwu Ajurumiyyah
7 Shorof Al Amtsilatut Tashrifiyyah II
8 I'lal ‘Athou Dzil Jalal
9 Tarikh Khulashoh Nurul Yaqin II
Jumlah JPL / Minggu
III 1 Tajwid Jazariyyah
2 Tauhid Fatchul Majid
3 Fiqh Fatchul Qorib II
4 Nahwu Al ‘Imrithi
5 Shorof Al Maqshud
6 Hadits Bulughul Marom I
7 Akhlaq Ta’limul Muta’allim
8 Tarikh Khulashoh Nurul Yaqin III
Jumlah JPL / Minggu

• Madrasah Aliyah (MA)
Kls No Fan Nama Kitab

I 1 Ilmu Tafsir Ilmu Tafsir
2 Hadits Bulughul Marom II
3 M. Hadits Baiquniyyah
4 Tauhid Kifayatul ‘Awam
5 Ushul Fiqh Mabadi Awwaliyyah
6 Nahwu Alfiyyah Ibnu Malik I
7 Qiro'atul Kitab Fatchul Qorib I
8 Tafsir Tafsir Jalalain I
9 Fiqh Fatchul Mu’in I
Jumlah JPL / Minggu
II 1 Hadits Abi Jamroh
2 Mustolah Hadits Alfiyyah Suyuthi
3 Tauhid Ummul Barohin I
4 Ushul Fiqh Waroqot
5 Nahwu Alfiyyah Ibnu Malik II
6 Qiro'atul Kitab Fatchul Qorib II
7 Tafsir Tafsir Jalalain II
8 Fiqh Fatchul Mu’in II
Jumlah JPL / Minggu
III 1 Tauhid Ummul Barohin II
2 Q. Fiqhiyyah Mawahibus Saniyyah
3 Faroidl Rohabiyyah
4 Balaghoh Jauharul Maknun
5 Mantiq Sullamul Munawwaroq
6 Falak Risalatun Nayyiroin
7 ‘Arudl ‘Arudl
8 Qiro'atul Kitab Fatchul Mu’in
Jumlah JPL / Minggu

Perubahan kitab-kitab fan di Madrasah Ibtidaiyyah setelah ditambah menjadi 3 kelas adalah sebagai berikut :

Kls No Fan Nama Kitab

I 1 Al Qur'an Juz ‘Amma
2 Tajwid -
3 Tauhid
4 Fiqh
5 Akhlaq Syi’ir Alala
6 Bhs. Arab Syi’ir Ro’sun Sirah
7 Khoth / Imla' Qolamul Ustadz
Jumlah JPL / Minggu
II 1 Al Qur'an Juz ‘Amma
2 Tajwid Syifa’ul Janan
3 Tauhid
4 Fiqh
5 Akhlaq Tanbihul Muta’allim
6 Bhs. Arab
7 Khoth / Imla' Qolamul Ustadz
Jumlah JPL / Minggu
III 1 Al Qur'an Juz ‘Amma
2 Tajwid Tuhfatul Athfal
3 Tauhid
4 Fiqh
5 Akhlaq Akhlaq Lil Banin I
6 Nahwu Nahwu Wadlih
7 Shorof Amtsilatut Tashrifiyyah I
8 Khoth / Imla' Qolamul Ustadz
Jumlah JPL / Minggu

Disamping perubahan di MI ada juga perubahan di MTs yaitu :
1. Pelajaran Jurumiyyah yang semula diajarkan di kelas II MTs dipindah di kelas I MTs.
2. Pelajaran ‘Imrithi turun ke kelas II MTs
3. Penambahan pelajaran Mutammimah, qowa'idul I'rob dan qowa'idus shorfiyyah di kelas III MTs
4. Pelajaran tajwid yang semula menggunakan kitab tuhfatul athfal diganti Risalatul Qurro’ Wal Huffadh

Perubahan kitab-kitab fan di Madrasah Ibtidaiyyah setelah kembali diringkas menjadi hanya 1 kelas adalah sebagai berikut :
No Fan Nama Kitab

1 Al Qur'an Juz ‘Amma
2 Tajwid Syifa’ul Janan
3 Tauhid ‘Aqidatul ‘Awam
4 Fiqh Durusul Fiqhiyyah
5 Akhlaq Syi’ir Alala
6 Nahwu Nahwu Wadlih
7 Khoth / Imla' Qolamul Ustadz
8 Bhs. Arab Syi’ir Ro’sun Sirah
Jumlah JPL / Minggu

Disamping perubahan di MI ada juga perubahan di MTs yaitu :
1. Pelajaran shorof tasrifan yang semula diajarkan di kelas III MI dan kelas I MTs dijadikan satu yaitu di kelas I MTs.
2. Tahun berikutnya pelajaran shorof tashrif lughowi dinaikkan ke kelas II MTs, pelajaran maqshud dinaikkan ke kelas III MTs, dan pelajaran qowaidus sorfiyyah jus I digabung dengan juz II di kelas I MA
3. Tahun 2005 pelajaran qowa’idus shorfiyyah ditiadakan karena dianggap sudah cukup dengan Alfiyyah dan diganti pelajaran qiro’atul kitab pada tahun 2006.
4. Tahun 2006 pelajaran madrasah yang tidak membutuhkan keterangan yang mendetail dipindah di luar madrasah, yaitu : Tarikh, hadits, akhlaq dan bahasa arab.

Sejak mulai digunakan system madrasah, waktu yang digunakan adalah malam hari yaitu mulai jam 7 s/d jam 9 waktu istiwa'. Kemudian mulai tahun … jam madrasah diundur menjadi jam 8 s/d jam 10 menggunakan waktu Indonesia Barat (WIB), adapun ba'da maghrib digunakan untuk musyawarah. Kemudian mulai tahun 2001 jam madrasah dipindah menjadi siang hari yaitu jam 14.30 s/d 16.30 WIB. Kemudian tahun 2002 jam madrasah dikembalikan pada malam hari, yaitu jam 20.00 s/d 22.00 WIB.
Mulai tahun 1428 H. / 2007 M. untuk fan qiro’atul kitab bagi MDU yang semula menggunakan kitab fiqh diubah menggunakan kitab tasawuf dengan rincian sebagai berikut :
• Kelas III MDU : Kifayatul Atqiya’
• Kelas II MDU : Bidayatul Hidayah
• Kelas I MDU : Sullam Taufiq
Perlu penegasan bahwa yang dibahas dalam pelajaran qiro’atul kitab adalah nahwu shorofnya, bukan isi kandungannya.










BAB I

SISTEM PENDIDIKAN

A. NAMA MADRASAH DINIYYAH
1. Madrasah Diniyyah Awwaliyyah (satu tahun), yang selanjutnya disingkat dengan MDA
2. Madrasah Diniyyah Wustha (tiga tahun) , yang selanjutnya disingkat dengan MDW
3. Madrasah Diniyyah 'Ulya (tiga tahun) , yang selanjutnya disingkat dengan MDU

B. PENDIDIKAN MADRASAH
1. MATERI PENDIDIKAN MADRASAH
1. Kitab-kitab yang dikaji dalam madrasah diniyyah adalah kitab-kitab karangan 'ulama salaf dan atau kitab-kitab karangan 'ulama kholaf dengan ketentuan lebih baik.
2. Fan-fan yang diajarkan meliputi :
2.1. Madrasah Diniyyah Awwaliyyah (MDA)
No Fan Nama Kitab JPL /
Mgg
1 Al Qur'an Juz 'Amma 1
2 Tajwid Syifa'ul Janan 2
3 Tauhid Aqidatul 'Awam 1
4 Fiqh Durusul Fiqhiyyah 2
5 Akhlaq Syi'ir Alala 2
6 Nahwu Nahwu Wadlih 2
7 Khoth / Imla' Qolamul Ustadz 1
8 Bhs. Jawa Qolamul Ustadz 1
Jumlah JPL / Minggu 12

2.2. Madrasah Diniyyah Wustha (MDW)
Kls No Fan Nama Kitab JPL /
Mgg
I MDW 1 Al Qur'an Juz 'Amma 1
2 Tauhid Durusul Aqoidid Diniyyah I,II,III 2
3 Fiqh Al Ghoyah Wat Taqrib 2
4 Nahwu Jurumiyyah 3
5 Shorof Amtsilatut Tashrifiyyah I 2
6 Khoth / Imla' Qolamul Ustadz 1
7 Bhs. Arab Qolamul Ustadz 1
Jumlah JPL / Minggu 12
II MDW 1 Tajwid Fatchul Mannan 2
2 Tauhid Khomsatu Mutun 1
3 Fiqh Fatchul Qorib I 3
4 Akhlaq Washoya 1
5 Nahwu Imrithi 3
6 Shorof Amtsilatut Tashrifiyyah II 1
7 I'lal 'Atho'u Dzil Jalal 1
Jumlah JPL / Minggu 12
III MDW 1 Tajwid Jazariyyah 1
2 Tauhid Fatchul Majid 1
3 Fiqh Fatchul Qorib II 3
4 Nahwu Mutammimah 2
5 Shorof Maqshud 2
6 Qowa'idul I'rob Qowa'idul i'rob 2
7 Qiro'atul Kitab Durorul Bahiyyah 1
Jumlah JPL / Minggu 12

2.3. Madrasah Diniyyah Ulya (MDU)
Kls No Fan Nama Kitab JPL /
Mgg
I MDU 1 Ilmu Tafsir Ilmu Tafsir 1
2 Hadits Bulughul Marom 1
3 M. Hadits Baiquniyyah 1
4 Tauhid Kifayatul 'Awam 1
5 Ushul Fiqh Mabadi Awwaliyyah 1
6 Nahwu Alfiyyah Ibnu Malik 4
7 Qiro'atul Kitab Fatchul Qorib I 1
8 Tafsir Tafsir Jalalain 1
9 Fiqh Fatchul Mu'in 1
Jumlah JPL / Minggu 12
II MDU 1 Hadits Abi Jamroh 1
2 Mustolah Hadits Manhalul Lathif 2
3 Tauhid Ummul Barohin I 1
4 Ushul Fiqh Waroqot 1
5 Nahwu Alfiyyah Ibnu Malik 5
6 Qiro'atul Kitab Fatchul Qorib II 2
Jumlah JPL / Minggu 12
III MDU 1 Tauhid Ummul barohin II 1
2 Q. Fiqhiyyah Mawahibus Saniyyah 2
3 Faroidl Rohabiyyah 2
4 Balaghoh Hilyatu Lubbil Mashun 2
5 Mantiq Idlochul Mubham 2
6 Falak Sullamun Nayyiroin 1
7 Arudl 'Arudl 1
8 Qiro'atul Kitab Fatchul Mu'in 1
Jumlah JPL / Minggu 12


C. PENGAJIAN LUAR MADRASAH
1. Pengajian luar madrasah dilaksanakan diluar jam madrasah maupun musyawarah dengan jadwal tersendiri;
2. Pengajian dimulai paling lambat dua minggu setelah hari efektif masuk madrasah;
3. Pengajian diikuti oleh semua santri sesuai kelas masing-masing;
4. Ba'da madrasah diisi kegiatan sebagai berikut :
a. Pengajian kitab MUHADZAB (sebagai wiridan)
b. Pengajian kitab lain (ditentukan sesuai kebijakan pengurus madrasah dengan disetujui oleh pengasuh)
c. Setoran muhafadhoh
d. Praktek 'ubudiyyah bagi santri kelas III MDW
5. Ba'da shubuh khusus untuk pengajian Al-Qur'an bagi santri Awwaliyyah dan Wustha. Adapun bagi santri Ulya digunakan untuk pengajian kitab kuning;
6. Setelah pengajian ba'da shubuh, digunakan untuk lalaran (muhafadhoh) minimal 10 menit dengan dipimpin oleh ketua kelas;
7. Jam 07.00 WIB sampai dhuhur, pengajian khusus santri yang tidak sekolah / kuliah;
8. Ba'da dhuhur pukul 14.00 WIB, pengajian sesuai kelas dan tingkatannya masing-masing;
9. Ba'da maghrib adalah jam wajib belajar;
10. Ba'da maghrib setiap malam sabtu dan malam senin pengajian oleh KH. Achmad Chalwani;
11. Pengajian KH. Achmad Chalwani dapat berubah waktu maupun harinya, jika beliau menghendaki;
12. Pengajian ba'da subuh untuk Madrasah Ulya :
a. Kelas I MDU : Kifayatul Akhyar juz I
b. Kelas II MDU : Tafsir Jalalain & Fathul Mu'in
c. Kelas III MDU : Fathul Wahhab juz I
13. Pengajian ba'da dhuhur untuk masing-masing kelas adalah sebagai berikut :
a. Kelas MDA : Belajar sendiri
b. Kelas I MDW : Mukhtashor Jiddan
c. Kelas II MDW : Fatchu Robbil Bariyyah
d. Kelas III MDW : Al Minhajul Qowim
e. Kelas I MDU : Kifayatul Akhyar Juz II
f. Kelas II MDU : Riyadlus Sholihin
g. Kelas III MDU : Fathul Wahhab Juz II
14. Pengajian dimulai sesuai waktu yang ditentukan walaupun siswa yang datang baru satu orang

D. PENGAJIAN AL QUR'AN
1. Pengajian Alqur'an diwajibkan bagi siswa Awwaliyah dan Wustha, dengan pembagian sebagai berikut :
a. Kelas MDA : Juz 1 – 5
b. Kelas I MDW : Juz 6 – 15
c. Kelas II MDW : Juz 16 – 25
d. Kelas III MDW : Juz 26 – 30
2. Untuk siswa kelas III MDW ditekankan pemahaman bacaan-bacaan ghorib
3. Apabila sudah tamat kelas III MDW / III MAK serta sudah khataman al-Qur'an, santri berhak mendapatkan sertifikat Al-Qur'an dan juga berisi silsilah guru Al Qur'an (sanad al-qur'an)
4. Selain siswa kelas tersebut, khususnya kelas MDU dianjurkan dengan sangat agar mengikuti pengajian sorogan Al Qur'an sampai khatam 30 juz kepada salah satu ustadz senior.
5. Menyediakan waktu khusus untuk menguji kemampuan siswa membaca al Qur'an

E. PENGAJIAN SOROGAN
1. Pengajian sorogan kitab sangat dianjurkan (sunat muakkad) bagi semua santri;
2. Kegiatan pengajian sorogan dilaksanakan bertujuan untuk meningkatkan kwalitas santri khususnya di dalam membaca kitab kuning;
3. Santri yang akan mengikuti, agar menghubungi salah satu ustadz atau tamatan;
4. Waktu dan tempat pengajian ditentukan atas kesepakatan santri dan ustadz yang bersangkutan;
5. Kitab yang dikaji bebas dengan ketentuan koordinasi terlebih dahulu dengan pengurus madrasah;
6. Para ustadz yang menjadi pengampu adalah semua tamatan dan dewan guru yang masih berdomisili di Pondok Pesantren;
7. Segenap mustahiq agar memberikan penjelasan kepada santri